SINGKIL - Tiga pegawai negeri sipil (PNS) dipecat karena dianggap tidak
disiplin dan melanggar aturan perundang-undangan sebagai abdi negara,
hari ini.
Dua diantara yang dipecat tersebut yaitu tenaga
kesehatan dan lainnya merupakan tenaga pendidik. Menurut keterangan
Bupati Aceh Singkil, Sapriadi, kegiatan ini dilakukan untuk membenahi
tenaga PNS di jajaran Pemerintahan Aceh Singkil yang tidak disiplin.
Mereka, kata dia, juga diberikan sanksi tidak mendapat tunjangan
pensiunan.
Merujuk kepada SK Bupati Aceh Singkil No :
862/47/2013 tanggal 5 Februari 2012 menyebutkan, pemberhentian salah
satu tenaga pendidik bernama Taswir,terpaksa dilakukan karena terbukti
telah terlibat pelecehan seksual kepada siswanya. Taswir merupakan
salah satu tenaga pengajar di SD Negeri SKPE II Panjaitan Desa Srikayu
Kecamatan Singkohor.
Sementara dua PNS lainya, yaitu Presetya
Karsa selaku staf di Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Singkil dan Fauzi
Ruska selaku staf Puskesmas Singkohor, diberhentikan dengan tidak
hormat karena tidak aktif bekerja selama bertahun-tahun. Pemberhentian
tersebut sesuai dengan SK bupati Aceh Singkil No : 862/11/2013 tanggal
14 Januari 2013.
Pemberhentian tersebut dilakukan di ruang
Kepala Badan Pembinaan dan Pengembangan Aparatur Negara Pegawai Negeri
Sipil yang dipimpin sekretaris BKPP Aceh Singkil, Amri pada Kamis 15
Februari 2013.
(sumber: waspada.co.id)
Saturday, April 13, 2013
Suami Berjudi, Ibu-ibu Demo ke Kantor Bupati
![]() |
| Gambar: serambinews.com |
Dari Siompin ke kantor bupati yang terletak di Desa Pulau Sarok, Kecamatan Singkil, para pengunjuk rasa menempuh jarak sekitar 50 kilometer. Mereka naik dua truk dan selebihnya naik sepeda motor. Dalam aksi itu mereka membawa spanduk dan poster berisi tuntutan gayang judi dan miras. Mereka juga menjerit-jerit histeris saat menyuarakan tuntutannya
“Suami kami tidak mengurus lagi anak-anak. Suami kami sibuk berjudi. Duit habis dipakai untuk pasang togel. Ke mana WH, Satpol PP, dan Pak Polisi,” teriak seorang orator dari kalangan pengunjuk rasa.
Niat mereka datang jauh-jauh adalah untuk bertemu langsung dengan Bupati Aceh Singkil, Safriadi SH, menyuarakan tuntutannya. Teriakan histeris kaum ibu itu kian menjadi-jadi saat diberi tahu bahwa Bupati Safriadi tak berada di kantor. Bupati saat itu sedang menghadiri Musdalub Partai Golkar di Kota Baharu.
Sekda Aceh Singkil, HM Yakub KS coba menemui pengunjuk rasa. Tapi saat ia mulai berpidato, justru diteriaki massa, tanda penolakan. Kaum ibu itu bahkan mengusir Camat Suro, Samsuddin, yang datang ke teras kantor bupati tempat pengunjuk rasa berkumpul.
Mereka tiba pukul 10.00 WIB. Selesai beberapa orang berorasi, semuanya duduk di halaman kantor bupati. Mereka mengatakan tidak akan pulang sebelum bertemu dengan Bupati Safriadi.
Mendengar itu, Wakil Bupati Dulmusrid datang menemui demonstran. Tapi ia mengalami nasib serupa dengan Sekda. “Karena Ibu-ibu tidak mau menerima saya, jadi saya mohon diri,” ujar Dulmusrid, berlalu
Para pengunjuk rasa melanjutkan orasinya minta judi togel, kim, biliar, dan tuak di daerah mereka segera ditumpas. Mereka klaim judi dan tuak itu sebagai penyebab para suami jarang pulang ke rumah dan mengabaikan kewajiban sebagai suami dan ayah.
Unjuk rasa itu dikoordinir Ramli Manik, didampingi mahasiswa, antara lain, Jirin Capah (Ketua Himapas), Idir Ali Angkat, Nazar, dan Alam.
Menariknya, unjuk rasa itu diisi dengan aksi teatrikal kaum ibu. Mereka lakonkan praktik judi dan mabuk-mabukan yang dilakukan para suami. “Berantas judi! Kami akan menginap di kantor bupati kalau belum bertemu bupati. Kami juga akan unjuk rasa dengan membawa lebih banyak lagi peserta, jika judi tidak diberantas,” teriak Nurmala, koordinator lapangan unjuk rasa.
Sekitar pukul 14.15 WIB, polisi akhirnya bernegosiasi dengan pengunjuk rasa. Barulah massa dari Gamis itu bersedia tuntutannya ditampung Wakil Bupati Dulmusrid. Tapi mereka mematok syarat, lapak-lapak judi harus ditertibkan segera. Bila tidak, maka jangan salahkan masyarakat akan bertindak sendiri.
Wakil Bupati menegaskan, segera turun ke lapangan memberantas perjudian siapa pun pemilik dan pelakunya. “Tolong masyarakat membantu,” tukasnya. Usai mendengar tanggapan Wakil Bupati Aceh Singkil itu, kaum ibu tersebut langsung membubarkan diri.
Seiring dengan itu, janji Wabup Dulmusrid pun dipenuhi. Sore kemarin muspida langsung bergerak beriringan dari Kantor Bupati Aceh Singkil dengan para pengunjuk rasa yang tetap naik dua truk plus sepmor.
Hingga pukul 18.30 WIB kemarin, razia di Siompin masih berlangsung. Hasil sementara, muspida bersama kaum ibu mengamankan satu meja biliar dan satu ember besar tuak. Bukan saja sarang judi dan lapak tuak di Siompin yang jadi sasaran, tapi tm razia juga bergerak ke Desa Mandumpang. Di sini tim mengangkat empat meja biliar yang terletak sekitar 100 meter di belakang SMP Suro. “Jangan membuat tuak, apalagi menjualnya. Jangan berjudi,” tandas Dulmusrid yang
memimpin razia, didampingi Sekda HM Yakub KS, Kasdim 0109/Singkil Mayor Tutur Suwantoro, Kabag Ops Polres Kompol Sutan Siregar, Kepala Satpol PP Arifin, dan Kadis Syariat Islam Henray Silalahi.
Sehari sebelum kaum ibu itu berunjuk rasa, dapur rumah Nurmala terbakar. Dia koordinator lapangan unjuk rasa. Kejadian itu dia sinyalir berkait erat dengan rencananya menggerakkan ibu-ibu untuk demo minta judi dan tuak diberantas. Namun, Nurmala tetap ikut demo.
Kasat Reskrim AKP Ibrahim menyatakan, masih menyelidiki penyebab terbakarnya dapur Nurmala, sehari menjelang unjuk rasa digelar. Ia tak menampik bahwa kebakaran itu kemungkinan sebuah sabotase untuk menggagalkan unjuk rasa yang digerakkan Nurmala.
“Polres akan bergotong royong memperbaiki dapur yang terbakar itu. Kami masih menyelidiki kejadian ini,” kata Ibrahim. Meski kemarin sore digencarkan razia judi dan tuak di Siompin, namun Serambi belum mendapat laporan apakah tadi malam para suami yang jarang pulang seperti Bang Toyib itu sudah kembali ke rumah masing-masing.
(sumber:serambinews.com)
Pejabat Pernah Mesum Jadi Kasatpol PP/WH
SINGKIL - Bupati Aceh Singkil, H Safriadi SH, memutasi dan melantik
puluhan pejabat di jajarannya, Senin (11/3), di Gedung Serbaguna Pulau
Sarok, Singkil. Sekilas tak ada yang aneh dalam proses mutasi itu. Tapi
menjelang prosesi pelantikan bubar, wartawan dikejutkan dengan
beredarnya selebaran yang menyoal kebijakan Bupati Safriadi karena
dinilai kecolongan melantik seorang pejabat eselon II yang pernah
terlibat mesum.
Dalam selebaran itu disebutkan bahwa Bupati Safriadi baru saja melantik Abdullah sebagai Kasatpol PP, WH dan Damkar Aceh Singkil. Padahal yang bersangkutan pernah berbuat mesum dengan seorang perempuan pegawai tenaga bakti.
Selebaran itu, berdasarkan amatan Serambi, ada dua bentuk. Pertama, berisi surat perjanjian perdamaian bermaterai yang ditandatangani Abdullah pada 15 Maret 2010. Dalam naskah perjanjian itu tercantum bahwa Abdullah memberikan uang perdamaian dan kedua pelaku berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, serta tidak akan ada lagi tuntutan dari pihak perempuan itu di kemudian hari.
Kemudian, selebaran kedua berisi Surat Keputusan Bupati Aceh Singkil Nomor Peg.826.1/500/2010 tentang Penjatuhan Hukuman Disiplin. Dalam keputusan yang ditandatangani Wakil Bupati Khazali itu, Abdullah ternyata dibebastugaskan dari jabatannya terhitung 1 April 2010, karena yang bersangkutan berdasarkan surat perjanjian telah mengakui berhubungan intim dengan wanita yang bukan istrinya.
Sebelum muncul selebaran itu, sebetulnya banyak warga yang masih ingat kisah Abdullah yang tiga tahun lalu tertangkap berbuat mesum dengan seorang pegawai tenaga bakti.
Bupati Aceh Singkil, Safriadi SH, yang dikonfirmasi Serambi seusai pelantikan kemarin, menyatakan segera mempelajari persoalan itu. Bupati sempat tertegun saat membaca isi selebaran itu. “Kita lihat dulu. Kejadianya sudah cukup lama, tiga tahun lalu. Yang bersangkutan sudah mempertanggungjawabkan perbuatannya,” ujar Bupati Safriadi.
Sekda Aceh Singkil, HM Yakub KS, saat dihubungi Serambi, Selasa (12/3) mengatakan, sebelum mengangkat seseorang terlebih dulu dilakukan evaluasi. Terhadap Abdullah, sebutnya, pimpinan menilai bahwa sejak kejadian itu, ia menunjukkan sikap baik. Berjanji tidak lagi mengulangi perbuatannya dan ia konsisten dengan apa yang diucapkannya, sehingga ia kini mendapat kepercayaan. “Sebelum diangkat tentulah dievaluasi. Pimpinan menilai dia sudah tobat, tidak mengulangi perbuatanya,” ujar Sekda.
Kendati demikian sebut Sekda, evaluasi terhadap yang bersangkutan terus dilakukan. “Pimpinan tidak segan-segan menjatuhkan sanksi apabila yang bersangkutan terbukti melanggar aturan dan etika sebagai abdi negara,” ujarnya.
Abdullah yang dimintai konfirmasinya, Selasa (12/3) sore tidak menampik tentang perbuatan asusila yang ia lakukan tiga tahun lalu. Namun, ia berharap apa yang terjadi tiga tahun lalu tidak diungkap kembali sebagai manuver politik untuk menjatuhkannya saat ini.
Abdullah juga sempat meminta Serambi tidak melansir berita itu namun karena selebarannya telah beredar di kalangan wartawan, kasus itu tak bisa ditutup lagi, apalagi ia adalah pejabat publik.
Saat dimintai tanggapannya, Abdullah menyatakan sangat menyesali perbuatannya itu. Abdullah juga mengaku telah bertobat dan terus berusaha memperbaiki diri.
Ia pun meminta dukungan semua pihak agar dapat menjalankan amanah yang dipercayakan Bupati Aceh Singkil kepada dirinya dengan sebaik mungkin. “Saya sudah tobat, saya tidak akan mengulangi lagi perbuatan itu. Saya mohon maaf kepada seluruh masyarakat Aceh Singkil karena di masa lalu pernah berbuat kesilapan,” kata Abdullah terbata-bata.
(Sumber: Serambinews.com)
Dalam selebaran itu disebutkan bahwa Bupati Safriadi baru saja melantik Abdullah sebagai Kasatpol PP, WH dan Damkar Aceh Singkil. Padahal yang bersangkutan pernah berbuat mesum dengan seorang perempuan pegawai tenaga bakti.
Selebaran itu, berdasarkan amatan Serambi, ada dua bentuk. Pertama, berisi surat perjanjian perdamaian bermaterai yang ditandatangani Abdullah pada 15 Maret 2010. Dalam naskah perjanjian itu tercantum bahwa Abdullah memberikan uang perdamaian dan kedua pelaku berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, serta tidak akan ada lagi tuntutan dari pihak perempuan itu di kemudian hari.
Kemudian, selebaran kedua berisi Surat Keputusan Bupati Aceh Singkil Nomor Peg.826.1/500/2010 tentang Penjatuhan Hukuman Disiplin. Dalam keputusan yang ditandatangani Wakil Bupati Khazali itu, Abdullah ternyata dibebastugaskan dari jabatannya terhitung 1 April 2010, karena yang bersangkutan berdasarkan surat perjanjian telah mengakui berhubungan intim dengan wanita yang bukan istrinya.
Sebelum muncul selebaran itu, sebetulnya banyak warga yang masih ingat kisah Abdullah yang tiga tahun lalu tertangkap berbuat mesum dengan seorang pegawai tenaga bakti.
Bupati Aceh Singkil, Safriadi SH, yang dikonfirmasi Serambi seusai pelantikan kemarin, menyatakan segera mempelajari persoalan itu. Bupati sempat tertegun saat membaca isi selebaran itu. “Kita lihat dulu. Kejadianya sudah cukup lama, tiga tahun lalu. Yang bersangkutan sudah mempertanggungjawabkan perbuatannya,” ujar Bupati Safriadi.
Sekda Aceh Singkil, HM Yakub KS, saat dihubungi Serambi, Selasa (12/3) mengatakan, sebelum mengangkat seseorang terlebih dulu dilakukan evaluasi. Terhadap Abdullah, sebutnya, pimpinan menilai bahwa sejak kejadian itu, ia menunjukkan sikap baik. Berjanji tidak lagi mengulangi perbuatannya dan ia konsisten dengan apa yang diucapkannya, sehingga ia kini mendapat kepercayaan. “Sebelum diangkat tentulah dievaluasi. Pimpinan menilai dia sudah tobat, tidak mengulangi perbuatanya,” ujar Sekda.
Kendati demikian sebut Sekda, evaluasi terhadap yang bersangkutan terus dilakukan. “Pimpinan tidak segan-segan menjatuhkan sanksi apabila yang bersangkutan terbukti melanggar aturan dan etika sebagai abdi negara,” ujarnya.
Abdullah yang dimintai konfirmasinya, Selasa (12/3) sore tidak menampik tentang perbuatan asusila yang ia lakukan tiga tahun lalu. Namun, ia berharap apa yang terjadi tiga tahun lalu tidak diungkap kembali sebagai manuver politik untuk menjatuhkannya saat ini.
Abdullah juga sempat meminta Serambi tidak melansir berita itu namun karena selebarannya telah beredar di kalangan wartawan, kasus itu tak bisa ditutup lagi, apalagi ia adalah pejabat publik.
Saat dimintai tanggapannya, Abdullah menyatakan sangat menyesali perbuatannya itu. Abdullah juga mengaku telah bertobat dan terus berusaha memperbaiki diri.
Ia pun meminta dukungan semua pihak agar dapat menjalankan amanah yang dipercayakan Bupati Aceh Singkil kepada dirinya dengan sebaik mungkin. “Saya sudah tobat, saya tidak akan mengulangi lagi perbuatan itu. Saya mohon maaf kepada seluruh masyarakat Aceh Singkil karena di masa lalu pernah berbuat kesilapan,” kata Abdullah terbata-bata.
(Sumber: Serambinews.com)
Friday, April 5, 2013
Siswa di Singkil Kesurupan
SINGKIL
- Kusurupan massal merasuki puluhan siswa SMA Negeri 1 Singkil, Jumat
(5/4/2013) pagi tadi. Kondisi itu, menyebabkan persiapan pelaksanaan
ujian nasional (UN) di sekolah yang terletak di Desa Pulau Sarok itu,
terganggu. Padahal pelaksanaan UN hanya tinggal sepekan kedepan.
Orang tua siswa mengkhawatirkan, peristiwa kesurupan mengganggu pelaksanaan UN. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, kesurupan yang terjadi di sekolah itu, akan terjadi berulang.
"Setiap kesurupan, proses belajar mengajar menjadi bubar, karena menimpa banyak siswa. Ini jelas mengganggu membuat anak-anak menjadi tidak belajar, padahal sebentar lagi ujian nasional," ujar Hawani, Ketua Komite SMA Negeri 1 Singkil.
(Sumber: Tribunenew.com)
Orang tua siswa mengkhawatirkan, peristiwa kesurupan mengganggu pelaksanaan UN. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, kesurupan yang terjadi di sekolah itu, akan terjadi berulang.
"Setiap kesurupan, proses belajar mengajar menjadi bubar, karena menimpa banyak siswa. Ini jelas mengganggu membuat anak-anak menjadi tidak belajar, padahal sebentar lagi ujian nasional," ujar Hawani, Ketua Komite SMA Negeri 1 Singkil.
(Sumber: Tribunenew.com)
Wednesday, March 27, 2013
Curhat Keluarga Sertu Santoso yang Dibunuh di Hugos Cafe
Palembang - Sertu Santoso, anggota Kopassus tewas
dikeroyok di Hugos Cafe, Yogyakarta. Santoso meninggal dengan luka
tusukan, sekujur tubuhnya penuh luka. Santoso ternyata pergi dengan
meninggalkan istri Indria yang tengah hamil 8 bulan.
"Saya sedih sekali. Apalagi anak saya Indria (istri Sertu Santoso-red) tengah hamil delapan bulan, kata mertua Santoso, Hj. Jamilah ibunda Indria yang ditemui detikcom di rumahnya di Musi Banyuasin, Sumsel, Rabu (27/3/2013).
Keluarga amat sangat kehilangan sosok Santoso. Apalagi Santoso sempat berencana membawa keluarganya tinggal di Solo agar dekat dengan dirinya.
Tapi niat itu tak pernah terlaksana. Para pengeroyok membunuhnya di Hugos Cafe. "Saya tidak tahu harus berkata apa lagi, kecuali kami bermohon kepada Allah semoga almarhum diterima di sisi terbaikNya, dan kami yang ditinggalkan diberi kekuatan," lirih Jamilah.
Sang istri bertugas sebagai PNS di Palembang. Ada pesan yang disampaikan Santoso, agar namanya disisipkan pada nama anaknya. Keluarga pun memilih tak mau berkomentar soal kasus pembunuhan para tersangka yang ditembak kelompok bersenjata di LP Sleman.
(detiknews.com)
"Saya sedih sekali. Apalagi anak saya Indria (istri Sertu Santoso-red) tengah hamil delapan bulan, kata mertua Santoso, Hj. Jamilah ibunda Indria yang ditemui detikcom di rumahnya di Musi Banyuasin, Sumsel, Rabu (27/3/2013).
Keluarga amat sangat kehilangan sosok Santoso. Apalagi Santoso sempat berencana membawa keluarganya tinggal di Solo agar dekat dengan dirinya.
Tapi niat itu tak pernah terlaksana. Para pengeroyok membunuhnya di Hugos Cafe. "Saya tidak tahu harus berkata apa lagi, kecuali kami bermohon kepada Allah semoga almarhum diterima di sisi terbaikNya, dan kami yang ditinggalkan diberi kekuatan," lirih Jamilah.
Sang istri bertugas sebagai PNS di Palembang. Ada pesan yang disampaikan Santoso, agar namanya disisipkan pada nama anaknya. Keluarga pun memilih tak mau berkomentar soal kasus pembunuhan para tersangka yang ditembak kelompok bersenjata di LP Sleman.
(detiknews.com)
Tuesday, March 26, 2013
Mesum di Kantor Kepala Desa
Singkil, Entah Apa yang membuat M 26 tahun dan N 24 tahun nekat ingin
melakukan Perbuatan Mesum di Kamar Mandi Kantor Desa Lae Butar
Kecamatan Gunung Meriah Kabupaten Aceh Singkil.Dua sejoli ygdiketahui
merupakan Warga Pemalang Jawa Timur tersebut nekat ingin melakukan
perbutan yang diharamkan Agama tersebut di pagi hri Senin 25/03/13.
Usut-punya usut Pasangan Muda-mudi tersebut Merupakan rekan sekerja dari sebuah perusahaan sebagai sales. Pagi itu keduanya brangkat dari kos-kosannya belaja sayur-mayur ke pajak harian desa lae butar, usai belanja dari pajak M memaksa N untuk melakukan perbuatan bejad itu. M membawa N ke kantor Desa lae Butar yang letaknya tidak jauh dari pajak. Jam saat itu masih menunjuk Pukul 07.30 Wib Kntor Desapun blm buka.
Pilihan tempat dikantor Desa ingin berbuat mesum rupanya tidak berjalan mulus. Kepala Desa Lae butar Suardi yang baru pulang mengantarkan anaknya kesekolah melihat keduanya masuk pelantaran Kantor desa. Curiga terhadap gerak-gerik keduanya Kepala desa menyusul keduanya, setibanya disana kecurigaan kepala desa terbukti. Keduanya di pergoki didalam kamar mandi dalam keadaan telanjang setengah Badan. " Saya curiga melihat ada kereta masuk ke area kantor saya, lalu saya menyambangi keduanya, sampai di depan kantor saya lihat ada sepeda motor parkir, tapi tidak ada orangnya, lalu saya menuju kamar mandi dan mendorong pintu, ternyata keduanya ada didalam kamar mandi dengan keaadan sudah tidak bercelana dengan Kondom masih di pegang lelakinya" ungkap kepala desa.
Setelah memergoki keduanya kepala desa kemudian menggiring keduanya kerumahnya, namun sang pria melarikan diri, setelah di cari tau dimana tempat kosnya akhirnya lewat teman sekerjanya M di bawa kekantor desa untuk disidangkan. Keduanya sempat menjadi tontonan warga yang mendengar ada pelaku mesum yang ketangkap di kantor Desa.
Kapolsek gunung meriah dan anggotanya sempat turun ke TKP untuk meminta pelaku di bawa kepolsek guna di BAP, namun permintaan itu di tolak masyarakat desa setempat lantaran warga dan perangkat desa menginginkan keduanya diadili secara Adat. Menjelang siang sidang Adat digelar oleh para pemangku Adat, imum Mukim semppat mengusulkan agar kedua diarak keliling kampung baru kemudian dinikahkan, namun setelah mempertimbangkan segala hal akhirnya pemangku adat urung menjatuhkan sangsi adat dimana pelaku harus diarak, rapat memutuskan keduanya dinikahkan atas persetujuan orang Tua Wanita yang juga berdomisili di Jawa Timur. Prosesi pernikahan dilangsungkan di kediaman kepala desa lae Butar pukul 21.00 wib disaksikan oleh para pemangkua Adat desa dan masyarakat.(Esp)
sumber: extrafm
Usut-punya usut Pasangan Muda-mudi tersebut Merupakan rekan sekerja dari sebuah perusahaan sebagai sales. Pagi itu keduanya brangkat dari kos-kosannya belaja sayur-mayur ke pajak harian desa lae butar, usai belanja dari pajak M memaksa N untuk melakukan perbuatan bejad itu. M membawa N ke kantor Desa lae Butar yang letaknya tidak jauh dari pajak. Jam saat itu masih menunjuk Pukul 07.30 Wib Kntor Desapun blm buka.
Pilihan tempat dikantor Desa ingin berbuat mesum rupanya tidak berjalan mulus. Kepala Desa Lae butar Suardi yang baru pulang mengantarkan anaknya kesekolah melihat keduanya masuk pelantaran Kantor desa. Curiga terhadap gerak-gerik keduanya Kepala desa menyusul keduanya, setibanya disana kecurigaan kepala desa terbukti. Keduanya di pergoki didalam kamar mandi dalam keadaan telanjang setengah Badan. " Saya curiga melihat ada kereta masuk ke area kantor saya, lalu saya menyambangi keduanya, sampai di depan kantor saya lihat ada sepeda motor parkir, tapi tidak ada orangnya, lalu saya menuju kamar mandi dan mendorong pintu, ternyata keduanya ada didalam kamar mandi dengan keaadan sudah tidak bercelana dengan Kondom masih di pegang lelakinya" ungkap kepala desa.
Setelah memergoki keduanya kepala desa kemudian menggiring keduanya kerumahnya, namun sang pria melarikan diri, setelah di cari tau dimana tempat kosnya akhirnya lewat teman sekerjanya M di bawa kekantor desa untuk disidangkan. Keduanya sempat menjadi tontonan warga yang mendengar ada pelaku mesum yang ketangkap di kantor Desa.
Kapolsek gunung meriah dan anggotanya sempat turun ke TKP untuk meminta pelaku di bawa kepolsek guna di BAP, namun permintaan itu di tolak masyarakat desa setempat lantaran warga dan perangkat desa menginginkan keduanya diadili secara Adat. Menjelang siang sidang Adat digelar oleh para pemangku Adat, imum Mukim semppat mengusulkan agar kedua diarak keliling kampung baru kemudian dinikahkan, namun setelah mempertimbangkan segala hal akhirnya pemangku adat urung menjatuhkan sangsi adat dimana pelaku harus diarak, rapat memutuskan keduanya dinikahkan atas persetujuan orang Tua Wanita yang juga berdomisili di Jawa Timur. Prosesi pernikahan dilangsungkan di kediaman kepala desa lae Butar pukul 21.00 wib disaksikan oleh para pemangkua Adat desa dan masyarakat.(Esp)
sumber: extrafm
Saturday, March 23, 2013
Sertu Santoso Tinggalkan Istri yang Mengandung Enam Bulan
MUARA ENIM - Indria Afriani (26) terlihat tegar
dan tabah saat menceritakan kenangan bersama suaminya Serka Santoso
(31) anggota Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura, Solo, yang tewas
setelah dikeroyok sejumlah orang di Kafe Hugo’s, Sleman Yogyakarta,
Selasa (19/3/2013) dini hari. Menurut Indria, Suaminya merupakan sosok yang ramah, baik dan murah senyum di mata keluarga dan teman-temannya. "Suami saya orangnya penuh senyum, senang bercanda dan tidak pernah marah," ujar Indria saat ditemui di kediamannya di Desa Karang Agung, kecamatan Abab, usai memakamkan suaminya, Rabu (20/3/2013).
Menurut Indria, ia tidak mempunyai firasat saat suaminya akan meninggal. Hanya saja selama sebulan ini dirinya selalu menangis ketika mendengarkan suara suaminya ketika menelepon dirinya. "Tidak ada firasat sama sekali ketika suami saya akan meninggal. Akan tetapi selama sebulan ini saya terus menangis ketika mendengar suaranya ketika ia menelepon," tuturnya.
Indria menuturkan bahwa pesan terakhir suaminya adalah untuk menyisipkan namanya untuk anak mereka yang akan lahir sebentar lagi. "Pesan terakhir dirinya sebelum meninggal adalah untuk menyisipkan namanya untuk anak kita," ungkap wanita yang sedang hamil enam bulan ini.
Selain itu, Santoso juga pernah mengungkapkan keinginannya untuk dapat membangunkan rumah dan mengurus ibunya Hj Amisah (75). Santoso juga ingin mengajak ibunya untuk tinggal bersama di Solo agar bisa dirawat. "Paling tidak dia pernah serumahlah dengan Mak, karena selama ini berjauhan," jelasnya.
Saat suaminya pulang pada tanggal 5 Maret, ia pernah berpesan untuk tidak mencuci kaus dalamnya. Karena jika Indria kangen kepada dirinya, bisa mencium kaus tersebut. "Sampai sekarang kaus tersebut masih belum saya cuci, karena bisa untuk melepaskan kerinduan terhadap suami saya," ungkapnya.
Selama sembilan bulan menikah, lanjut Indria, dirinya merasa sangat bahagia bersama Santoso, meskipun harus berjauhan dengan suaminya karena bertugas di Solo. "Biasanya saya yang ke tempat suami di Solo," tuturnya.
Jika dirinya ke Solo, mengunjungi suaminya, Indria mengatakan bahwa mereka selalu mesra. Seperti makan selalu sepiring berdua dan suaminya sering masak untuk mereka berdua. "Malah lebih sering suami saya yang masak daripada dirinya. Apalagi jika saya malas minum susu dia selalu membuatkan susu untuk saya," paparnya.
Ketika mendapatkan kabar bahwa suaminya telah meninggal Indria mengaku menangis dan langsung memeluk ibunya.
Begitu pula dengan Hj Jamilah, mertua Santoso yang mengaku sangat sedih kehilangan menantunya. "Santoso merupakan menantu yang baik, ramah dan murah senyum. Tidak ada cela sama sekali dari dirinya," ucap Jamilah.
Selain itu, mereka juga meminta agar kasus kematian Santoso agar dapat diselesaikan dengan tuntas oleh petugas kepolisian. Karena sebenarnya Santoso tidak salah apa-apa.
Sementara itu, Kasi intelejen Batalyon 22 Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan Kartasura Solo, Kapten Wahyu Yuniartoto mengungkapkan bahwa Santoso adalah pribadi yang komunikatif, memiliki semangat juang, mudah bergaul dan suka sharing. "Orangnya juga humanis, kreatif dan dalam melaksanakan tugas tidak pernah cacat," tambah Wahyu.
Jenazah Santoso sendiri telah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Karang Agung, Rabu (20/3/2013). Jenazah disemayankan secara militer oleh Yonif Yon Zipur Prabumulih dan dipimpin oleh Kasdim 0404 Muaraenim, Mayor Sutomo.
(tribun sumsel)
Subscribe to:
Posts (Atom)

